Pierre Tendean

Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Andreas Tendean[1] (lahir 21 Februari 1939 – meninggal 1 Oktober 1965 pada umur 26 tahun) adalah seorang perwira militer Indonesia yang menjadi salah satu korban peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Mengawali karier militer dengan menjadi intelijen dan kemudian ditunjuk sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasutiondengan pangkat letnan satu, ia dipromosikan menjadi kapten anumerta setelah kematiannya. Tendean dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dan bersama enam perwira korban Gerakan 30 September lainnya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965.


Kehidupan awal[sunting | sunting sumber]

Pierre Andreas Tendean terlahir dari pasangan Dr. A.L Tendean, seorang dokter yang berdarah Minahasa, dan Cornet M.E, seorang wanita Indo yang berdarah Perancis, pada tanggal 21 Februari 1939 di Batavia (kini Jakarta), Hindia Belanda. Pierre adalah anak kedua dari tiga bersaudara; kakak dan adiknya masing-masing bernama Mitze Farre dan Rooswidiati. Tendean mengenyam sekolah dasar di Magelang, lalu melanjutkan SMP dan SMA di Semarang tempat ayahnya bertugas. Sejak kecil, ia sangat ingin menjadi tentara dan masuk akademi militer, namun orang tuanya ingin ia menjadi seorang dokter seperti ayahnya atau seorang insinyur. Karena tekadnya yang kuat, ia pun berhasil bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung pada tahun 1958.[2]

Karier militer[sunting | sunting sumber]

Setelah lulus dari akademi militer pada tahun 1962 dengan pangkat letnan dua, Tendean menjadi Komandan Pleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan. Setahun kemudian, ia mengikuti pendidikan di sekolah intelijen di Bogor. Setamat dari sana, ia ditugaskan di Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat (DIPIAD) untuk menjadi mata-mata ke Malaysia sehubungan dengan konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia; ia bertugas memimpin sekelompok relawan di beberapa daerah untuk menyusup ke Malaysia. Pada tanggal 15 April 1965, Tendean dipromosikan menjadi letnan satu, dan ditugaskan sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution.[2][3]

G30S[sunting | sunting sumber]

Pada pagi tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Gerakan 30 September (G30S) mendatangi rumah Nasution dengan tujuan untuk menculiknya. Tendean yang sedang tidur di ruang belakang rumah Jenderal Nasution terbangun karena suara tembakan dan ribut-ribut dan segera berlari ke bagian depan rumah. Ia ditangkap oleh gerombolan G30S yang mengira dirinya sebagai Nasution karena kondisi rumah yang gelap. Nasution sendiri berhasil melarikan diri dengan melompati pagar. Tendean lalu di bawa ke sebuah rumah di daerah Lubang Buaya bersama enam perwira tinggi lainnya. Ia ditembak mati dan mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua bersama enam jasad perwira lainnya.[4]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Tendean bersama keenam perwira lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Untuk menghargai jasa-jasanya, Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965. Pasca kematiannya, ia secara anumerta dipromosikan menjadi kapten.[2][1] Sejumlah jalan juga dinamai sesuai namanya, termasuk di Manado,[5] Balikpapan, dan di Jakarta.[6]

sumber terkait untuk artikel ini.

https://id.wikipedia.org/wiki/Pierre_Tendean

Tokoh Rakyat Gendut

Tokoh rakyat gendut
Bernama lengkap Joko Supriatno, dia adalah seorang abdi dalem keraton ngayogyakarta dan menjadi sangat dekat dengan keluarga keraton di ngayogyakarta hadiningrat, tokoh fiksi ini sengaja di buat hanya untuk menambah kesan lucu, Joko Supriatno sering di panggil dengan sebutan Joko ini memiliki seorang sahabat yang bernama lengkap Jono priatmojo. Dan mereka berdua sama-sama bekerja pada keraton ngayogyakarta terutama mengabdi pada Pangeran Diponegoro.
Joko ini menyukai salah satu putri dari Pangeran Diponegoro, namun tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya kepada sang putri pujaan hatinya. Joko ini memiliki bobot badan yang gemuk kira-kira berat badan 139 kg, karena memiliki bobot badan yang gemuk, dia sering kali berbuat kesalahan dalam bekerja, karena majikannya seorang yang sangat mengerti agama dan penuh kesabaran maka kesalahannya selalu di maafkan.
Tapi terkadang dia juga dimarahi, kalau terlalu banyak kesalahan yang di buat olehnya. joko dan jono ini adalah tokoh fiksi yang sengaja di buat untuk menambah kesan lucu dalam film animasinya. Joko dan jono tidak pernah akur kalau bertemu selalu berantem ntah itu mempermasalahkan hal-hal sepele ataupun hal-hal yang besar sekali pun, mereka selalu berantem tetapi keesokan hari mereka selalu berbaikkan kembali dan menjalani aktivitas seperti biasanya.
Joko juga paling berat untuk menahan kentut, apalagi kalau di depan sahabatnya sendiri kejadian ini bermula pada saat bergerilya untuk membantu Pangeran Diponegoro dalam perang jawa atau perang Diponegoro, kedua tokoh Joko dan Jono ini, admin harap bisa menghibur para user yang membaca cerita ini dan kedepannya juga akan diluncurkan cerita serial mengenai kehidupan mereka berdua.
Ditunggu saja kisahnya ya…!!!
Joko dan jono meninggal saat membantu Pangeran Diponegoro dalam mengambil atau mencuri meriam di desa-desa dalam perang jawa atau perang Diponegoro mereka berdua tertembak oleh peluru yang di luncurkan oleh kolonial belanda, ketika itu mereka berdua sedang mendorong meriam menuju ke hutan joko dan jono mempertaruhkan nyawanya untuk mengabdi pada Pangeran Diponegoro. Joko dan jono ini sebenarnya adalah tokoh fiksi yang untuk melengkapi sebuah cerita atau naskah jadi tidak benar-benar ada kalo kisah yang sebenarnya dalam perjuangan Pangeran Diponegoro itu benar-benar dan tidak sesuai dengan kisah yang di tulis di sini. admin dengan kebesaran hati memohon maaf dalam menuliskan artikel perjuangan mereka.

Petualangan joko dan jono dalam membantu Pangeran Diponegoro dalam perang jawa atau perang diponegoro, bergerilya atau dengan cara perang terbuka seperti yang kita ketahui bahwa  Gerilya adalah salah satu strategi perang yang dikenal luas, karena banyak digunakan, selama perang kemerdekaan di Indonesia pada periode 1950-an. A.H. Nasution yang pernah menjabat pucuk panglima Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat (TNI-AD) menuliskan di buku "Pokok-pokok Gerilya". Bagi tentara perang gerilya sangatlah efektif. Mereka dapat mengelabui,menipu atau bahkan melakukan serangan kilat. Taktik ini juga sangat membantu dan manjur saat menyerang musuh dengan jumlah besar yang kehilangan arah dan tidak menguasai medan. Kadang taktik ini juga mengarah pada taktik mengepung secara tidak terlihat (invisible). Sampai sekarang taktik ini masih dipakai teroris untuk sembunyi. Jika mereka menguasai medan mereka dapat melakukan : penahanan sandera, berlatih, pembunuhan, hingga menjadi mata-mata. Dan musuh dapat melakukan nomaden, yaitu berpindah-pindah dan menyerang secara bersembunyi tanpa ketahuan oleh lawan.Tokoh besar dalam gerilya ini adalah Jendral Soedirman dari Indonesia bahkan karena siasat nya ini membuat pasukan Belanda ketar ketir ketika melawan pasukan gerilya Indonesia saat itu dan ditiru oleh Ho Chi Minh sehingga Vietnam Utara menang melawan Vietnam Selatan dan Amerika Serikat.


Joko Supriatno menghadap perspektif


Joko Supriatno menghadap kesamping


Joko Supriatno menghadap kedepan

Sumber terkait dalam artikel silahkan klik di sini

16 Tarian Khas Sumatera Barat

16 Tarian Tradisional Sumatera Barat
Tarian Tradisional Sumatera Barat pada umumnya dipengaruhi oleh etnis Minangkabau dan etnis Mentawai. Seni Tari Tradisional Sumatera Barat yang dipengaruhi oleh etnis Minangkabau memiliki kekhasan yang dipengaruhi agama Islam. Selain itu kebiasaan masyarakat Minangkau yang suka merantau dan keunikan adat matrilineal juga turut mempengaruhi tarian yang bercirikan adat Minangkabau ini. Beberapa Seni Tari adat Minangkabau antara lain Tari Pasambahan, Tari Piring, Tari Payung dan Tari Indang.

Sedangkan kekhasan tari yang dipengaruhi adat Mentawai disebut dengan turuk langgai yaitu seni tari yang menceritakan tentang tingkah laku hewan, sehingga judul tariannyapun disesuaikan dengan nama-nama hewan tersebut. Contohnya tari burung elang, tari monyet, tari ayam dan tari ular.

Berikut ini 16 tarian tradisional Sumatera Barat beserta penjelasannya :


1. Tari Tradisional Sumatera Barat - Tari Pasambahan Minang


Tari Pasambahan Minang merupakan tarian tradisional Sumatera Barat yang ditujukan untuk menyambut kedatangan tamu yaitu sebagai ucapan selamat datang dan ungkapan rasa hormat kepada tamu yang datang. Tari Pasambahan biasanya ditampilkan saat menyambut tamu dan saat kedatangan pengantin pria ke rumah pengantin wanita. Setelah Tari Pasambahan kemudian dilanjutkan dengan suguhan Daun Sirih dalam Carano kepada Sang tamu, sedangkan pada acara penyambutan pengantin pria, Daun sirih dalam Carano disuguhkan kepada pengantin pria sebagai wakil rombongan dan juga kepada kedua orangtua pengantin pria.


Pada saat ini tari Pasambahan Minang tidak hanya ditampilkan untuk menyambut tamu saja, akan tetapi kerap kali dipertunjukan pada pementasan seni dan budaya Sumatera Barat.

2. Tari Tradisional Sumatera Barat - Tari Piring



Tari Piring atau disebut tari piriang merupakan tarian tradisional Sumatera Barat yang berasal dari Solok Sumatera Barat. Tari Piring masih terus lestari hingga sampai saat ini. Tarian piring memiliki gerakan yang menyerupai gerakan para petani semasa bercucuk tanam, membuat kerja menuai dan sebagainya. Tarian ini juga melambangkan rasa gembira dan syukur dengan hasil tanaman mereka. Tarian ini merupakan tarian gerak cepat dengan para penari memegang piring di tapak tangan mereka, diiringi dengan lagu yang dimainkan oleh berbagai 
alat musik tradisional Sumatera Barat seperti talempong dan saluang. Kadangkala, piring-piring itu akan dilontar ke udara atau pun dihempas ke tanah dan pecahan piring yang dilontar ke tanah akan dipijak oleh penari-penari tersebut.

Tari piring pada awalnya merupakan tarian ritual yang dilakukan oleh masyarakat Solok sebagai rasa syukur kepada para dewa akan hasil panen yang melimpah ruah. Tarian ini menggunakan media piring yang diisi dengan berbagai sesaji. Namun ketika agama islam masuk ke Mingangkabau, tari piring tidak lagi menjadi acara ritual, akan tetapi tarian ini berubah menjadi sara hiburan dan kesenian daerah.


3. Tarian Tradisional Sumatera Barat - Tari Payung


Tari payung merupakan tarian tradisional dari Sumatera Barat yang menggambarkan kasih sayang seorang kekasih yang dilambangkan dengan melindungi kekasih tersebut dengan payungnya.Tari payung memang merupakan tari pergaulan muda-mudi sehingga dibawakan secara berpasang-pasangan. Selain menggunakan payung sebagai alat bantu yang dimainkan oleh penari pria, bisa juga ditambah dengan selendang untuk penari wanita.Musik yang mengiringi tari payung ini sangat dinamis. Tari payung biasa dibawakan untuk memeriahkan acara pesta, pameran, dan lain sebagainya.




4. Tarian Tradisional Sumatera Barat - Tari Indang Minangkabau



Pengertian Tari Indang adalah salah satu kesenian anak nagari wilayah Pesisir Minangkabau khususnya di Pariaman yang sudah berkembang sejak abad ke 13 seiring dengan masuknya agama Islam ke Minangkabau. Awalnya Kesenian ini dimainkan oleh 1
3 orang penari plus 1 orang tukang dzikir dan syair yang berisi pujian terhadap nabi (Shalawat Nabi), pemain memainkan alat musik tambourin mini yang disebut dengan rapai. Tari indang pada awalnya digunakan sebagi media dakwah yang biasanya dimainkan pada malam hari dan pada peringatan hari-hari besar islam serta pada acara besar lainnya sepeti penyambutan tamu, pengankatan pejabat dll. 
Tokoh yang memperkenalkan sekaligus pembuat gerakan tari indang Rafa’i beliau adalah salah seorang pengikut syaikh Burhanuddin seorang ulama dan tokoh penyebaran islam daerah sumatera barat, Sejarah Tari Indang Tari indang tidak seperti seni tari pada umumnya, tari Indang tidak menonjolkan gerakan tubuh yang penari dalam pertunjukannya. Karena pada dasarnya tari Indang adalah salah satu bentuk sastra lisan dan media dakwah yang dalam penyampaiaannya lebih mengedepankan permainan rebana dan dendangan syair - syair yang biasanya bernafaskan Islam.


Tari indang Minangkabau ini juga disebut dengan tari badindin. 

5. Tarian Tradisional Sumatara Barat - Tari Lilin

Tari Lilin adalah tarian tradisional Sumatera Barat. Tari lilin ini merupakan tarian istana pada zaman dahulu yang dilakukan pada malam hari. Para penari yang melakukan tarian lilin terdiri dari beberapa orang yang menggunakan piring kecil yang berisi lilin menyala ditangannya. Tari lilin selalu diiringin oleh musik yang dibawakan oleh sekelompok musisi. Tari lilin dilakukan dengan sangat hati-hati, agar piring yang ada ditangan tidak jatuh serta lilin yang ada dalam piring tersebut tidak mati.


6. Tarian Tradisional Sumatera Barat - Tari Tempurung



Tari 
Tempurung adalah tarian yang menggunakan tempurung sebagai properti tariannya, dikenal sekitar tahun 1952 oleh Ali Muhammad, sekitar tahun 1970 hingga 1980 tari Tempurung dikenal sampai ke Nagari Ayei Dingin Padang Sibusuk, tetapi pada tahun 1990 sampai sekarang tari Tempurung sudah jarang ditarikan oleh masyarakat di Kanagarian Batu Manjulur. Fungsi tari Tempurung sebagai hiburan bagi masyarakat Batu Manjulur dan sebagai media komunikasi untuk mengumpulkan masyarakat Batu Manjulur. Busana khas Minangkabau yang berwarna hitam digunakan sebagai tata busana tari Tempurung. Tari Tempurung saat ini kurang eksis di masyarakat Kanagarian Batu Manjulur, faktor penyebabnya adalah kurang minatnya generasi muda untuk mempelajari tari tradisional karena tari Tempurung yang monoton dari segi gerak dan musik pengiringnya.


7. Tarian Tradisional Sumatera Barat - Tari Randai


Randai adalah seni pertunjukan teater khas Minangkabau yang merupakan gabungan dari seni peran, seni tari, seni musik dan seni beladiri.


Pertunjukan randai ini diadakan di lapangan terbuka di kampung hampir di seluruh nagari di kabupaten Solok dan juga Sumatera Barat. Pemain Randai tergabung dalam kelompok seni Randai yang anggotanya terdiri dari anak anak dan orang dewasa. Pada Kelompok Randai zaman dahulu tidak ada anggota randai wanita, sehingga untuk memerankan seorang wanita salah seorang anggota randai didandani mirip wanita. Pemain pemeran wanita ini disebut bujang gadih. Seiring perkembangan zaman, sekarang sudah banyak kelompok randai yang memiliki anggota wanita.

8. Tarian Tradisional Sumatera Barat - Tari Alang Babega Minangkabau


Tari Alang Babega Minangkabau adalah  salah satu tarian Khas minangkabau yang dipengaruhi etnis Mentawai. Tarian ini menggambarkan burung elang yang melayang layang diudara dengan mengepakkan sayapnya untuk mencari mangsa, kemudian menukik dan menyambar ayam.


9. Tarian Tradisional Sumatera Barat - Tari Sabalah Sumatera Barat


Tari Sabalah adalah tarian yang menggambarkan martabat kaum wanita di Sumatera Barat.


10. Tarian Tradisional Sumatera Barat - Tari Gelombang

Tari galombang adalah salah satu tari tradisional Minangkabau yang hampir dimiliki oleh setiap negeri. Tarian ini selalu ditampilkan pada upacara penyambutan tetamu yang dihormati seperti Ketua adat atau Penghulu, Guru Silat, dan Penganten.

Dalam bentuk dua baris berbanjar ke belakang, tarian aslinya ditarikan oleh puluhan lelaki, ada yang bentuknya menghadap kepada tetamu satu arah sahaja, dan ada pula yang dua arah. Istilah dalam tari ini pun bermacam-macam pula, seperti bagalombang (menarikan galombang), galombang duo baleh Tari yang ditarikan 12 orang), galombang manyongsong (dalam bentuk satu arah) , dan galombang balawanan (dalam bentuk dua arah dari pihak tuan rumah dan dari pihak tetamu).

Pergerakan tarian yang berawal dari aktivitas silat tersebut tercipta dari bentuk variasi gerak yang bentuknya seperti gelombang laut. Kemudian dengan mempergunakan olahan ritma, ruang, dan tenaga, maka terbentuklah pergerakan tari yang indah. Keindahannya jelas terlihat jika semua penari serempak bergerak tinggi kemudian merendah, sambil maju dan mundur dengan perlahan, seperti gelombang air laut. 

11. Tarian Tradisional Sumatera Barat - Tari Ambek Ambek Koto Anau

Tari Ambek-Ambek berawal dari tingkah laku anak-anak yang bermain, bergelut, atau bercanda pura-pura berkelahi dengan menggunakan gerakan pencak atau merupakan olah gerak dan rasa sebagai satu bentuk materi permainan anak nagari. tari Ambek-Ambek adalah tari tradisi Koto Anau. 


12. Tarian Tradisional Sumatera Barat - Tari Kain Paisia Selatan

Tari Kain berasala dari Pasisia Salatan atau Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Sebuah tarian dari wilayan kepulauan kepulauan


13. Tarian Tradisional Sumatera Barat - Tari barabah

Tari Barabah adalah tarian tradisional Sumatera Barat yang ditampilkan oleh putra dan putri secara berpasangan menampilkan gerak bunga silat dengan Ketepatan melakukan teknik-teknik gerak tubuh, tangan, kaki, kepala dan ekspresi wajah.


14. Tarian Tradisional Sumatera Barat -

Tari Rancak Di Nan Jombang Sumatera Barat 
Tarian ini berasal dari Sumatera Barat. Nama tarian tersebut berasal dari kata "Rancak" atau cantik dan "di nan Jombang" atau Gagah 



15. Tarian Tradisional Sumatera Barat -

Tari ini menggambarkan keteguhan hati masyarakat Bawean dalam iman Agama Islam yang merupakan agama anutan masyarakat seluruh Bawean. Syair dan geraknya menggambar kecintaan pada Sang Khaliq Allah SWT dan kekasih hati utama Rasul Nabi Akhiruzzaman Muhammad SAW sang pembawa kebenaran. 


16. Tarian Tradisional Sumatera Barat - Tari Panen


Tari Panen Yaitu tari yang menggambarkan kehidupan petani, mulai dari mencangkul, membajak, dan memanen 

Demikian Sobat serba-tradisional, 16 Tarian Tradisional Sumatera Barat. Artikel ini masih sangat minim dan singkat sekali, namun penulis berharap dapat membuka referensi bagi Sobat sehingga tarian yang ada diatas akan lebih tergali lagi dimasa mendatang. Jangan Lupa untuk menyaksikan 16 Video Tari Tradisional Minangkabau diatas di halaman ini.

Referensi dan Sumber Gambar :

  1. http://alumnivandeventer.org
  2. id.wikipedia.org
  3. https://id-idFACEBOOKhttp://cdncache-a.akamaihd.net/items/it/img/arrow-10x10.png.com/PITUAH.ADAT.MINANGKABAU/posts/282608278503170
  4. http://journal.student.uny.ac.id/jurnal/artikel/9553/33/561
  5. http://budaya-indonesia.org
  6. rahmatps.blogspot.com
  7. http://t-indonesia.com/kolom/wforum.cgi?no=5954&reno=5947&oya=5947&mode=msgview&list=new 
  8. google.com

sumber terkait dalam artikel ini, silahkah klik link di sini

10 Tarian khas Jambi

10 Tari Tradisional Jambi



Provinsi Jambi merupakan provinsi yang berada di Pulau Sumatera. Penduduknya mayoritas adalah suku adat melayu. Seperti halnya penduduk melayu yang menetap di Provinsi lainnya di Indonesia, penduduk provinsi Jambi juga memiliki beragam tradisi dan adat istiadat. Tidak terkecuali dengan seni tari tarian daerah atau tari tradisional Jambi.

Tari Tradisional dari Jambi sangat beragam, dan kebanyakan memang bernuansa melayu. Sehingga tidak heran jika ada tarian yang mirip dengan tari dari provinsi lain. Sebut saja tari sekapur sirih Jambi yang bisa ditemui juga di Riau maupun Kepulauan Riau dengan nama tari makan sirih atau tari persembahan. Bahkan negara tetangga Malaysia juga memiliki tarian yang hampir mirip dengan itu. Walaupun mungkin saja namanya berbeda, tetapi tarian ini merupakan tarian ciptaan orang Indonesia.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai tari tradisional Jambi ini, mari kita simak penjelasan singkat 10 tari tradisional Jambi dibawah ini  :


1. Tari Tradisional Jambi -  Tari Sekaput Sirih

Tari Sekapur Sirih dari Jambi diciptaka pertama kali oleh Firdaus Chatab pada tahun 1962. Kemudian pada tahun 1967, tari Sekapur Sirih ini ditata ulang oleh OK Hendri BBA (https://twitter.com/infojbi/status/13576226195120129. Firdaus Chatab sendiri memang terkenal sebagi seorang seniman multi talenta yang juga terkenal dengan lagu ciptaannya yang berjudul Rang Kayo Hitam.

Tarian Sekapur Sirih merupakan tari tradisional dari Provinsi Jambi yang dibawakan untuk menyambut kedatangan tamu kehormatan yang datang ke Jambi. Tarian Sekapur Sirih ini biasanya dilakukan oleh 12 orang penari terdiri dari 9 orang penari wanita serta 2 orang pria bertugas sebagai pembawa payung dan 1 orang pria sebagai pengawal.

Tarian Sekapur Sirih diiringi oleh musik tradisional khas melayu Jambi yaitu dari suara rebana, gambus, gendang, gong serta alat musik akordion dan biola. Sedangkan para penari Sekapur Sirih menggunakan kostum khas Jambi dengan membawa beberapa properti seperti Cerano (tempat sirih), keris serta payung.


2. Tari Tradisional Jambi -  Tari Selampit Delapan

Tari selampit delapan merupakan tari tradisional yang berasal dari Provinsi Jambi. Tari ini pertama kali diperkenalkan oleh M. Ceylon ketika bertugas pada Dinas Kebudayaan Provinsi Jambi pada tahun 1970-an. Pria kelahiran Padang Sidempuan 7 Juli 1941 ini memiliki bakat yang luar biasa dalam bidang kesenian, terutama seni tari. Sebagai pribadi yang baik, ramah, dan enerjik membuat dia mudah beradaptasi dengan budaya dan lingkungan setempat. Aktivitasnya yang lebih banyak bergulat dalam bidang kebudayaan menjadikan dirinya berhasil menangkap pesan terdalam dari pergaulan masyarakat yang kemudian diolah menjadi sebuah karya seni bernama Tari Selampit Delapan. 

Tari Selampit Delapan ini menggambarkan kekompakan, dan kekompakan itulah yang menjadi panduan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Tari Selampit Delapan terkandung sebuah pesan yang dalam tentang makna sebuah pergaulan, bahwa pergaulan yang baik dilandasi oleh keimanan,SALINGhttp://cdncache-a.akamaihd.net/items/it/img/arrow-10x10.png menghargai, dan berperilaku bijaksana. Tentunya pandangan ini tidak terlepas dari falsafah hidup masyarakat Jambi yang memegang teguh nilai-nilai keimanan sebagai landasan dalam setiap pergaulan. Tarian Selampit Delapan ini dibawakan oleh 8 orang penari (4 pasang muda mudi) yang masing-masing membawa kain. Kain yang mereka bawa diatur sedemikian rupa serasi dengan koreografi sehingga membantuk 1 ikatan yang kuat.
Dalam perkembangannya, tari selampit delapan tersebut kemudian ditetapkan menjadi salah satu tarian khas Provinsi Jambi. Tari Selampit Delapan ditampilkan pada acara-acara pesta adat, atau acara promosi budaya.

3. Tari Tradisional Jambi -  Tari Inai
Tari Inai adalah tarian tradisional yang bisa ditemui dalam keseharian tradisi masyarakat Kuala Jambi, Desa Teluk Majelis,  Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Tari Inai ini ditampilkan pada acara adat perkawinan. Gerakan dari tari inai berpola pada gerakan pencak silat yang merupakan salah satu olahraga bela diri dalam masyarakat Melayu pada umumnya.

Tari Inai ini diiringi oleh hendakan musik patam-patam yang merupakan iringin musik dari alat musik biola, akordion, serunai, gong dan hentakan kendang ronggeng.

Adapun fungsi dari tari inai ini adalah sebagai eksprtesi ritual yaitu menjaga calon mepelai wanita dari gangguan-gangguan supernatural yang berasal dari manusia atau makhluk halus. Selain itu tari inai dari Jambi ini memiliki fungsi sebagai ungkapan estetik dan hiburan.

Penari inai terdiri dari 5 atau 7 pasang penari yang memakai busana adat Melayu. Kepala ditutup dengan memakai peci dan mengenakan baju baju Gunting Cina atau baju Kecak Musang dan celana panjang longgar.  kemudian memakai sesamping yaitu kain sarung atau songket yang dibentuk segitiga atau sejajar dan diikatkan ke pinggang tepatnya di atas lutut. Properti yang digunakan pada tarian berfungsi sebagai pelengkap saja atau juga sebagai alat pendukung gerak tari tersebut.


4. Tari Tradisional Jambi -  Tari Tauh

Tari Tauh Jambi merupakan tarian tradisional yang menggambarkan pergaulan atau hubungan muda mudi. Tari Tauh Jambi ini sudah ada sejak zaman dahulu sampai sekarang, khususnya didaerah Lekok 50 Tumbi Lepur, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Bungo, Jambi.

Seperti halnya beberapa tari tradisional Jambi yang sudah kita kenal diatas, tari tauh ini dibawakan oleh beberapa penari secara berpasangan (4 orang penari wanita dan 4 orang penari pria) dengan menggunakan pakaian tradisi melayu.

Tari Tauh diiringi oleh musik tradisional Jambi yang dibunyikan dari alat musik  kalintang kayu, gong, gendang dan biola, dengan lagu pengiring krisnok dan pantun pantun anak muda.

Tari tauh ditampilkan pada acara-acara resmi yang diadakan pemerintah maupun masyarakat pada umum pada acara pesta perkawinan.


5. Tari Tradisional Jambi -  Tari Nitih Mahligai

Tari Nitih Mahligai adalah tari tradisional yang diadaptasi dari upacara adat masyarakat Kerinci yaitu "Niti Naik Mahligai". Tari Nitih Mahligai ini ditata oleh Epa Bramanti Putra.

Upacara Niti Naik Mahligai  sendiri adalah sebuah upacara yang dulu dilakukan untuk memilih pemimpin di kerajaan yang terdapat di Bukit Kaco, batas antara Kerinci dan Bungo.

Menurut penuturan Epa Bramanti Putra sebagai keturunan langsung Ratu Kerajaan Bukit Kaco, seseorang akan diangkat sebagai apabila sang calon telah melewati beberapa tahap seleksi yang  terdiri ;
-          meniti pecahan kaca
-          meniti berbagai macam duri tumbuhan
-          meniti bara api
-          meniti bambu runcing
-          meniti/masuk ke dalam api besar
-          meniti tanggu berayun
-          duduk di daun nyiru/awing-awang
Prosesi  Nitih Naik Mahligai ini diadaptasi menjadi sebuah pertunjukan. Sedangkan tarian nitih mahligai diiringi dengan beragam alat musik antara lain Gendang serta diiringi dengan lantunan ‘Nyahu’ (vocal) sang pawang, sedangkan penari bergerak mengikuti irama musik dengan gerakan tari Aseik.



6. Tari Tradisional Jambi - Tari Rangguk

Tari Rangguk adalah tarian tradisional yang berkembang di masyarakat Dusun Cupak, Kerinci yang ada di Provinsi Jambi. Rangguk berasal dari bahasa Kerinci Hulu, sedangkan sebagian masyarakat Jambi khususnya orang Sungai Penuh menyebutnya dengan kata "ranggok" dan orang Pulau Tengah menyebut dengan "rangguek". Kata rangguk diartikan berbeda-beda, ada yang mengatakan bahwa rangguk berarti tari, adapula yang mengatakan kata rangguk berasal dari kata uhang (orang) dan nganggok yang berarti mengangguk, sehingga dalam perkembangannya kata uhang ngaggok menjadi rangguk.

Pada mulanya tari rangguk hanya dilakukan oleh lelaki, biasanya pada sore hari sepulang bekerja sebagai sarana hiburan pelepas lelah. Akan tetapi setelah abad ke 20 kaum perempuan mulai melakukan tarian rangguk, walaupun terbatas pada anak-anak saja. Baru pada abad ke 50 perempuan dewasa ikut mementaskannya.



7. Tari Tradisional Jambi - Tari Sekato

Tari Sekato adalah tarian daerah Jambi yang lahir hasil dari pengolahan tari yang ada di Jambi pada tahun 1992. Tari Sekato Jambi menggambarkan pasangan muda mudi yang sedang memadu kasih.

Tari Sekato ini ditata oleh Sri Purnama Syam. Dalam pementasannya Tari Sekato dari Jambi dibawakan oleh 8 orang penari putra dan putri secara  berpasangan. Para penari Sekato menggunakan kostum berupa baju gunting limo, celana panjang, kain samping, desta, baju kurung, celana panjang dan teratai. Selain menggunakan kostum / baju adat melayu, penari sekato juga menggunakan properti berupa kipas dan payung. Penggunaan properti kipas dan kayu ini memiliki arti sebagai senjata dan perlindungan diri.

8. Tari Tradisional Jambi - Tari Liang Asak

Tari liang asak adalah tari daerah Jambi yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat Jambi yang sedang menugal menanam padi disawah yang dilakukan oleh bujang dan gadis. Tarian Liang Asak ini berasal dari Sarolangun, Kabupate Sarolangun, Provinsi Jambi

Yang dimaksud dengan liang asak menurut masyarakat Sarolangun adalah lobang-lobang kecil akibat ditugal sebagai tempat penaburan benih. Karena tari ini menggambarkan proses menugal dan menanam padi, maka judulnya diangkat dari salah satu hasil proses menugal.

Tari Liang Asak yang ditata oleh Elmawati dan Ali Tayib, ditampilkan oleh penari putra dan putri secara berpasangan, dengan jumlah penari 3 sampai dengan 5 orang pasangan. Adapun gerakan dari tari liang asak yang berasa dari Sarolangun Jambi ini menggabarkan proses menugal dan menanam padi sambil bersenda gurau  bersama pasangannya dengan type gerakan langkah tak jadi, zigzag, tudung awan dan nyilau.

Para penari mengenakan Kostum baju khas melayu yaitu penari putri memakai baju kurung, kain sarung dan topi penutup kepala. Sedangkan penari putra menggunakan busana baju teluk blango dan topi. Tari Liang Asak ini diiringi musik yang dimainkan antara lain gendang, biola, accordion dan gong. 


8. Tari Tradisional Jambi - Tari Serengkuh Dayung
Tari Serengkuh dayung adalah tarian daerah yang berasal dari Kota Jambi. Pencipta tarian ini belum diketahui, akan tetapi telah ditata ulang oleh Aini Rozak pada tahun 1990.

 Tari Serengkuh Dayung menggambarkan perasaan searah setujuan dan rasa kebersamaan dalam segala hal. Tari serengkuh dayung ini dibawakan hanya oleh penari putri.


9. Tari Tradisional Jambi - Tari Rentak Kudo
Tari Rentak Kudo sangat populer di masyarakat Kerinci. Tari Rentak Kudo adalah tarian kesenian khas budaya asli masyarakat Kerinci yang berasal dari daerah Hamparan Rawang Kabupaten Kerinci, Jambi yang banyak diminati kalangan masyarakat di Kabupaten Kerinci.

Tarian ini dikenal sebagai "Rentak Kudo" karena gerakannya yang menghentak-hentak seperti kuda.  Disamping itu tarian ini dibawakan dalam perayaan yang dianggap sangat sakral oleh masyarakat Kerinci. Tingginya penghormatan terhadap perayaan seni dan budaya Kerinci ini pada zaman dahulu sangat kuat sehingga dipercaya bahwa dalam setiap pementasan seni budaya ini getaran dan hentakan tari Rantak Kudo bisa terasa hingga jarak yang sangat jauh dari lokasi pementasan. 

Tarian Rentak Kudo ini dipersembahkan untuk merayakan hasil panen pertanian di daerah Kerinci yang secara umum adalah beras (padi) dan dilangsungkan berhari-hari tanpa henti. Kadang bila dilanda musim kemarau yang panjang, masyarakat Kerinci juga akan mementaskan kesenian ini untuk berdoa kepada Yang Maha Kuasa (menurut kepercayaan mereka masing-masing). Tujuan dari pementasan tari ini umumnya adalah untuk melestarikan pertanian dan kemakmuran masyarakat, untuk menunjukkan rasa syukur masyarakat Kerinci baik dalam musim subur maupun dalam musim kemarau untuk memohon berkah hujan sakral oleh masyarakat Kerinci. 

Namun pada saat sekarang tari rantak kudo sudah umum dipakai, bahkan acara/ resepsi pernikahan pun tari rantak kudo ini sering digunakan di kalangan masyarakat untuk suatu hiburan di suatu pernikahan

10. Tari Tradisional Jambi - Tari Kisan
Tari Kisan adalah tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Bangko, Provinsi Jambi. Pencipta tari kisan Jambi ini tidak dikenal akan tetapi tarian ini telah ditata ulang oleh Daswar Edi pada tahun 1980 dan Darwan Asri tahun 1983.

Tarian Kisan ini menggambarkan kegiatan masyarakat dalam mengolah padi menjadi beras, dan tarian ini dibawakan oleh penari remaja putri.

Demikian Sobat tradisi, 10 tari tradisional Jambi yang bisa kita rangkum. Semoga akan menambah perbendaharaan pengetahuan sobat tentang tari daerah Indonesia.

Referensi :
1. http://www.senitari.com/2015/07/tari-sekapur-sirih-sambutan-selamat-datang.html
2. http://yudhiebahar.blogspot.co.id/2014/02/jenis-jenis-tarian-daerah-jambi.html
3. https://nsvn.wordpress.com/2014/03/08/tari-inai-sebagai-salah-satu-tari-daerah-jambi/
4. http://naniksriwahyuni.blogspot.co.id/2014/04/tari-tarian-dari-jambi.html
5. http://melayuonline.com/ind/culture/dig/1636/tari-rangguk
6. http://jambi.tribunnews.com/2013/03/13/tari-rangguk-kerinci-disiarkan-tv-malaysia
7. http://www.saktimedia.com/tarian-rentak-kudo-kerinci-jambi/
8. http://www.tamanbudayajambi.com/blog/detail/38/seputar.apresiasi.tari.jambi

Sumber terkait dalam artikel ini, silahkan klik link di sini 

Police Story

Perampokan Bank S uatu pagi yang cerah dengan titik matahari yang sangat indah di ufuk timur bandung ini, terdengar suara yang mengg...